Pada 15–20 Juli 2024, Yogyakarta menjadi tuan rumah Globethics Doctoral School 2024, sebuah program akademik internasional yang mempertemukan kandidat doktoral, peneliti, dan akademisi senior dari Eropa, Afrika, Amerika Latin, dan Asia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada (UGM), Globethics, dan Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA).

Globethics Doctoral School tidak seperti konferensi akademik seperti pada umumnya. Selama hampir satu minggu, para peserta tidak hanya mempresentasikan riset masing-masing, tetapi juga terlibat dalam diskusi yang intens. Mereka saling mengkritisi, bertanya, dan mempertajam argumen dari berbagai sudut pandang disiplin dan latar budaya yang berbeda. Tema besar yang diangkat, Inclusive Peace and Responsible Governance, terasa relevan dengan situasi global hari ini, ketika banyak negara menghadapi krisis kepercayaan publik, polarisasi, serta berbagai tantangan lain dalam menjaga integritas tata kelola.
Sesi plenari dan lokakarya dipandu oleh para akademisi berpengalaman, antara lain Dicky Sofjan dari Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) UGM yang juga menjabat sebagai Vice President Globethics, Greta Balliu dari University of Fribourg, Simone Sinn dari University of Münster, José Antonio David dari Catholic University of Córdoba dan University of San Andrés, serta Amélé Ekué sebagai Academic Dean Globethics. Diskusi yang berlangsung mencakup isu pluralisme agama, pembangunan berkelanjutan dan hak asasi manusia, demokrasi dan tanggung jawab sipil, hingga pertimbangan etis dalam metodologi penelitian.

Yang membuat program ini berbeda adalah cara teori dihubungkan langsung dengan konteks sosial. Indonesia, dengan keberagaman agama dan dinamika sosialnya, menjadi latar yang hidup bagi refleksi akademik tersebut. Para peserta tidak hanya berada di ruang kelas, tetapi juga mengunjungi komunitas Sungai Code di Yogyakarta untuk melihat secara langsung praktik perdamaian dan inisiatif kewirausahaan sosial di tingkat komunitas. Dari situ terlihat bahwa tata kelola dan perdamaian bukan hanya soal kebijakan di atas kertas, tetapi tentang proses sosial yang tumbuh dari bawah dan dijalankan oleh warga sendiri.

Pengalaman kultural juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Kunjungan ke Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia UNESCO, menyaksikan pertunjukan Ramayana Ballet, serta eksplorasi Ullen Sentalu Museum memberi gambaran bagaimana nilai dan narasi moral hidup dalam tradisi dan seni. Semua itu memperkaya diskusi tentang etika, karena peserta dapat melihat bagaimana konsep moralitas tidak hanya dibicarakan, tetapi juga diwariskan dan dipraktikkan dalam kebudayaan.

Melalui Globethics Doctoral School 2024, Yogyakarta tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan acara, tetapi benar-benar menjadi ruang pertemuan gagasan global. Kolaborasi antara UGM, Globethics, dan YADEMA membuka peluang kerja sama yang lebih berkelanjutan dalam pengembangan kepemimpinan etis dan tata kelola yang bertanggung jawab, baik di tingkat regional maupun internasional.










